Matahari menyorot hampir di atas kepala. Speedboat mengarah ke sebuah tebing di tepi Pulau Maratua, Berau, Kalimantan Timur. Perahu laju ini lalu ditambatkan. Penumpangnya berangsur keluar dan menuju ke jalan setapak di tebing yang riuh pepohonan.
Nofiyatul Chalimah – Maratua
SEBUAH gua yang dipenuhi air pun menyambut. Di dekatnya ada tulisan Goa Halo Tabung. Gua ini adalah salah satu destinasi wisata di Pulau Maratua. Goa Halo Tabung ini dipenuhi air bersuhu dingin. Para pegiat wisata di pulau ini pun memang merancang ketika cuaca di puncak terik, wisatawan akan dibawa ke destinasi ini.
“Kalau sekiranya panas sekali cuacanya, kami bawa ke tempat teduh dahulu. Misalnya di Goa Halo Tabung. Dia teduh dan airnya dingin. Ada beberapa opsi lain juga untuk tempat yang teduh,” papar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batu Payung dari Kampung Payung – Payung Maratua, Andriansyah.
Pariwisata memang menjadi andalan Pulau Maratua. Sebuah pulau terluar Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan perairan Filipina. Keindahan Maratua juga sudah kesohor. Turis berdatangan menuju pulau ini untuk menikmati keindahan dan kekayaan baharinya.

Warga Maratua pun bekerja tak lepas dari kekayaan alam. Menjadi nelayan atau bergelut di dunia wisata.
Tantangan Maratua cukup besar. Mereka masih berusaha menyiapkan fasilitas pariwisata, sumber daya manusia, dan mempromosikan wisata daerah ini. Meskipun, sejumlah problema juga masih mengadang. Sarana dan prasarana, hingga isu lingkungan.
“Kemarin kami juga bahas soal isu lingkungan. Misal masih banyak sampah-sampah dari laut. Kalau warga di Maratua, sudah ada tempat pembuangan sampahnya sendiri. Ini sampah-sampah entah dari mana kalau arus air ke arah pulau, akan terhenti di pulau,” sambungnya kepada media ini pada 19 Desember.
Panas terik berkepanjangan lalu berubah ke penghujan bahkan badai, juga menjadi hal yang harus mau tidak mau mereka taklukkan. Bekerja di lapangan, memaksa mereka juga harus kuat fisiknya.
“Kalau musim pancaroba begini, batuk pilek begitu pasti. Tetapi, sudah biasa. Teman-teman masih tetap kerja di lapangan,” terang ketua dari kelompok yang baru saja dinobatkan jadi Pokdarwis terbaik se-Kaltim ini.
Suhu Makin Panas, Hipertensi Juga Menghantui
Sejumlah peneliti pun melakukan riset soal peningkatan suhu di Berau dan telah dipublikasikan dalam jurnal Lancet Planetary Health. Mereka menemukan peningkatan suhu 0,95 derajat celcius, dari 2002 hingga 2018 di Berau. Padahal, dunia membutuhkan 150 tahun.
Peningkatan suhu ini berdampak bagi kesehatan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari penelitian tersebut, Pada tahun 2018, suhu rata-rata tertimbang populasi di Berau adalah 0,86°C lebih tinggi dibandingkan tahun 2002, peningkatan yang berkontribusi hingga 8 persen dari semua penyebab kematian pada tahun 2018.
Peningkatan suhu ini, bisa berdampak pada kesehatan secara langsung seperti heat stroke, pingsan, kelelahan hingga kram. Secara tidak langsung, juga berdampak ke kesehatan seperti memperparah kondisi tubuh yang sudah memiliki penyakit hipertensi dan kardiovaskuler.
Pasalnya, perubahan suhu dapat secara signifikan memengaruhi variabilitas tekanan dan pembuluh darah.
Di Maratua, ketika sakit, opsi terdekat masyarakat Maratua hanya berobat ke Puskesmas. Kepala Puskesmas Maratua Suriansyah pun memaparkan, kebanyakan masyarakat datang ke Puskesmas dengan keluhan penyakit tidak menular (PTM).
“Seperti hipertensi, itu paling banyak. Ada juga penyakit tidak menular lain seperti diabetes, kolesterol, dan sebagainya,” jelasnya.

Dia melihat masyarakat Maratua memiliki gaya hidup yang berpotensi menyebabkan hipertensi. Seperti jenis makanan yang dikonsumsi hingga kurang olahraga. Diakuinya, cuaca di Maratua cukup panas. Namun, dia melihat warga Maratua sudah beradaptasi dengan suhu Maratua.
“Mungkin karena sudah puluhan tahun dan turun temurun tinggal di sini,” sambungnya.
Meski begitu, dia tidak menganggap remeh. Dia dan timnya pun memberikan penyuluhan ke warga. Seperti pentingnya rutin memeriksakan diri, mengonsumsi makanan sehat, dan banyak minum agar tak dehidrasi. Tidak hanya untuk kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak. Puskesmas juga harus concern dengan isu pangan di pulau ini.
“Karena ketersediaan pangan, erat juga kaitannya dengan kesehatan,” sambungnya.
Perubahan Iklim, Pangan, dan Air
Dari data, Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, ada 3.927 warga Pulau Maratua. Mereka terbagi dalam empat kampung. Pertama di Teluk Harapan, ada 1.237 orang. Kemudian, di Bohe Silian ada 1.194 jiwa, di Payung Payung ada 694 warga, dan Teluk Alulu 802 orang.
Untuk urusan protein, Maratua memiliki sumber protein hewani yang banyak. Aneka hasil laut, bisa mudah didapat. Produksi pulau ini pun, bisa mencapai 2 ribu ton per tahun ikan laut. Namun, untuk sumber makanan lain, kebanyakan bergantung pada pasokan dari luar. Selain itu, air pun masih menjadi isu utama di pulau ini.
Camat Maratua Ariyanto pun memaparkan, mayoritas warga Maratua hidup dari laut. Lahan maratua pun untuk pertanian kebanyakan untuk produksi kelapa. Ada warga menanam sayur atau pohon lain, juga untuk konsumsi sendiri. Maka dari itu, pasokan sembako masih bergantung dari Tanjung Redeb, Berau.

Selain itu, hal yang tak kalah pelik di pulau ini adalah air. Empat kampung di Maratua memiliki permasalahan yang berbeda. Hanya Teluk Harapan yang sumbernya banyak. Wilayah lain Bohe Silian, Teluk Alulu, dan Payung Payung, sumber airnya minim dan bergantung pada air hujan serta sumur di Teluk Harapan.
“Kalau kemarau, sumur di kampung selain Teluk Harapan, biasanya payau. Kalau penyulingan, biayanya cukup mahal. Jadi, yang banyak diandalkan air hujan,” jelasnya.
Maka jika kemarau berkepanjangan, akan berdampak ke warga. Mereka harus membayar lebih untuk konsumsi air.
Misalnya Kepala Kampung Payung Payung Rico yang memaparkan kemarau pada triwulan ketiga 2023 cukup parah. Suhunya juga terasa panas. Sehingga, harus banyak minum agar terhidrasi.
“Tapi, kemarau begini, air sumur kita jadi payau. Harus beli, kalau tidak ada stok air hujan,” jelasnya.
Padahal, air juga penting. Seperti para nelayan yang melaut dan kondisi terik, akan sangat mudah haus. Jika tidak minum, dia bisa dehidrasi. Belum lagi kebutuhan air untuk menunjang pariwisata. Sedangkan, hujan yang jadi andalan juga tak tentu datangnya.
Sementara itu, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) telah mempublikasikan hasil studinya pada tanggal 6 Juni 2023. Hasil studi penilaian kerentanan masyarakat pesisir pada 4 Kampung di Kecamatan Maratua. Coastal Resilience Senior Manager YKAN Mariski Nirwan, mengatakan Kajian yang dilakukan YKAN menunjukan bahwa tingkat kerentanan pada kampung ini masih di tingkat rendah dan sedang. Ketersediaan air bersih merupakan salah satu aksi prioritas.
“Ditujukan untuk mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan air hujan, bahkan hingga menjadi air siap minum,” jelasnya.
Dia memaparkan, Perubahan iklim yang terjadi secara global, menyebabkan berbagai dampak buruk, terutama bagi ekosistem dan masyarakat di wilayah pesisir, seperti Maratua dan wilayah lainnya. Akibatnya, ketahanan warga pesisir menjadi lebih rentan terhadap bencana dan mengalami tantangan dalam praktik budi daya dan mata pencahariannya yang sangat bergantung pada alam.
Kenaikan Suhu dan Deforestasi di Kalimantan Timur
Dari data Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) Kaltim 2010-2020, sepanjang 2007-2016, lahan yang sudah mengalami deforestasi di Kaltim mencapai 1.140.536 hektare (ha) atau 114.053 ha per tahun. Sektor kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar sebanyak 51 persen. Disusul hutan tanaman industri sebanyak 14 persen, lalu sektor pertambangan 10 persen sedangkan pembalakan liar atau illegal logging menyumbang 6 persen.
Kaltim memiliki Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI), yang menanggung pekerjaan rumah besar. Ketua DDPI Kaltim Daddy Ruhiyat mengatakan pihaknya berusaha menekan gas emisi. Program ini berkaitan erat menekan angka deforestasi.
“Penurunan emisi Kaltim dari 2019 ke 2020 saja sudah dari 27,5 ton CO2e menjadi 9,3 juta ton CO2e di akhir 2020,” paparnya.
Dia menambahkan, isu perubahan iklim ini sendiri sudah dimasukkan ke dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Salah satu program unggulan yang digarap DDPI Kaltim untuk penurunan emisi dari deforestasi ialah Forest Carbon Partnership Facilities-Carbon Fund (FCPF-CF).
Adapun beberapa langkah yang sudah dilakukan seperti perbaikan tata kelola hutan serta lahan, perbaikan administrasi dan supervisi hutan, pengurangan laju deforestasi, serta peningkatan mata pencaharian alternatif yang lestari untuk masyarakat. Atas capaiannya, pemerintah pun mendapatkan kompensasi atau yang sering disebut dana karbon.
Seluruh daerah di Kaltim dapat, kecuali Samarinda dan Bontang. Berau mendapat yang paling besar. Berturut-turut dari yang terbesar, Berau Rp 7,3 miliar, Kutim Rp 6,8 miliar, Paser Rp 6,3 miliar, Kubar Rp 5,7 miliar. Kemudian Mahakam Ulu Rp 4,5 miliar, Kukar Rp 4,1 miliar, PPU Rp 3,2 miliar, dan Balikpapan Rp 3,04 miliar.
Dana tersebut dikelola pemerintah kabupaten/kota masing-masing dan akan diarahkan untuk melaksanakan beberapa program FCPF CF. Program-program itu antara lain tata kelola hutan dan lahan, penguatan kapasitas pemerintah dalam pengelolaan kawasan berhutan, serta pengurangan deforestasi dan degradasi hutan pada areal perizinan. Juga untuk program alternatif sumber penghidupan bagi masyarakat, dan pengelolaan program, pemantauan, dan evaluasi. Program ini diharapkan bisa memberi dampak pada kondisi iklim. Sehingga, hidup masyarakat yang berada di pesisir ataupun kepulauan bisa lebih baik, tidak dibayang-bayangi krisis iklim yang lebih parah.
*Liputan ini hasil kerjasama dengan SIEJ yang didukung oleh UNIC Indonesia*








