Dispar Kaltim Hadirkan 5 Praktisi Aktif di Bimtek Tata Kelola Taman Rekreasi, Peserta Puas: Boleh Gak, Pelatihannya 3 Bulan Sekali?

PEMATERI UTAMA: Titik Aryanto (tengah) adalah praktisi ulung dengan pengalaman dua dekade di Jatim Park Group. (IST)

Samarinda-Selama 2 hari penuh, para peserta Bimtek Tata Kelola Taman Rekreasi yang diselenggarakan Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, belajar bagaimana cara mengelola dan menjual tempat wisatanya dari 5 pembicara yang merupakan praktisi aktif. Seluruh materi yang disampaikan relevan dan aplikatif. Para peserta puas, bahkan ketagihan. Meminta pelatihan seperti ini lebih sering diadakan.

Pada hari pertama, 23 Juli 2025, pemilik Langit Timur sekaligus Tokoh Pariwisata Kalimantan Timur (sejauh ini masih satu-satunya yang diakui oleh pemprov), membuka dengan materi ‘Narasi dalam Pengembangan Destinasi Wisata’.

Bacaan Lainnya

Selain memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan taman rekreasi, Espe –sapaannya, juga memiliki latar belakang sebagai sastrawan aktif. Sehingga untuk urusan ‘mewaluh’ –mmm … maksudnya membuat untaian kata-kata manis untuk tujuan promosi, terlihat mudah untuknya.

Cara penyajian materinya juga unik. Setiap teori, disertai dengan contoh langsung. Penyampaiannya berduet dengan Ketua DPD PUTRI Kaltim, Dian Rosita. Dengan intensitas penyampaian yang pelan dan landai, disertai ledakan di beberapa bagian. Peserta jadi tidak terburu-buru. Mereka memiliki waktu untuk mencerna setiap materi.

Dan ciri khas lain dari seorang Espe, adalah sering me-riffing peserta dengan pujian berlebihan dan guyonan. Ini cukup ampuh untuk memecah ketegangan selama penyampaian materi.

7 Jam Bersama Titik Aryanto

Selepas Syafruddin Pernyata meletakkan mikrofonnya, giliran Titik Aryanto yang ‘naik ke panggung’. Bagi kalangan umum, nama ini jelas tak begitu populer. Namun untuk pebisnis wisata, Titik adalah sosok besar. Bisa dibilang, ia adalah ‘separuh nyawa’ dari Jatim Park Group. Dua puluh lima tahun bersama pelopor destinasi wisata buatan di Indonesia itu, Titik telah makan asam garam industri pariwisata lintas masa.

Titik memulai dengan mempresentasikan Jatim Park Group. Reaksi peserta … 00000, melongo. Melihat betapa besarnya JP Group, mereka tak bisa berkata-kata. JP Group terlalu gila!

Setelahnya, Titik menyampaikan materi pengelolaan destinasi, marketing dan promosi (dia pakarnya!), hingga manajemen krisis ketika destinasi mengalami insiden.

Antara Titik Aryanto dan para peserta tentu terdapat gap yang cukup luas. Karena JP Group adalah raksasa, sementara mayoritas destinasi wisata di Bumi Etam, masih skala menengah. Ditambah, ini pertama kalinya ia ke Samarinda, atau kedua kalinya ke Kaltim. Sehingga belum terlalu menguasai medan. Dispar memahami itu, lalu mengizinkan Saddam dan Tebe –dari PUTRI Samarinda mendampingi Titik sebagai moderator. Cara ini cukup jitu untuk membawa arah diskusi dan tanya jawab berada dalam ‘kotak’ yang dipahami peserta dan narasumber. Sehingga tercipta obrolan yang relevan dan aplikatif.

Materi paling interaktif adalah manajemen krisis. Selama dua dekade, kesuksesan Jatim Park Group juga dibersamai dengan beberapa insiden. Baik yang terjadi karena alam maupun hal teknis. Bagaimana cara mereka keluar dari krisis itu, terutama menjaga citra destinasi, adalah wawasan yang segar bagi pengelola destinasi di Kaltim.

Titik tanpa sungkan membongkar rahasia dapurnya. Sampai jam 6 petang tiba. Mau tidak mau pelatihan harus diusaikan, padahal peserta masih antusias. Antrean pertanyaan masih banyak. Total 7 jam Titik berada di depan, dan masih terasa kurang.

Hari Kedua yang Penuh Tawa

Di hari kedua, 24 Juli 2025. Sheila Achmad, pengelola Rumah Ulin Arya sekaligus ketua DPC Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kota Samarinda menjadi pemateri pembuka. Sheila menjelaskan secara gamblang bagaimana ia dan tim mengelola RUA. Tempat wisata paling elite di Kalimantan Timur.

Dari Titik ke Sheila, para peserta tak memiliki celah untuk tidak ternganga. Kedua wanita ini cerdas dan lugas. Punya komitmen tinggi pada bisnis wisata. Tak sekadar membuat tempat indah. Tapi sekaligus memberikan kenyamanan dan pengalaman berwisata yang mengesankan.

Di sesi kedua, Sheila harusnya menyampaikan materi tentang pembukuan dan perpajakan. Tapi ia memilih membagi peran. Materi ini, akan lebih pas jika disampaikan oleh pakar keuangan langsung. Hans Taufan adalah nama yang dipilih. Ia adalah akuntan sekaligus konsultan keuangan. Gelarnya panjang, ada 4, tapi cara penyampaiannya sederhana dan ‘on point’.

Taufan mampu menjelaskan materi pembukuan, bentuk usaha, dan perpajakan dengan bahasa bayi. Membuat para peserta yang awalnya sudah merasa, “Duh bakal ngantuk ini.” Menjadi, “Lah, kok mudah dipahami?”

Lanjut sesi terakhir, outbound. Dipandu langsung oleh tim Jawsika yang dikomandoi Fitri Susilowati. Mulanya, peserta yang merupakan pengusaha wisata, berjumlah 30 orang dari 7 kabupaten/kota di Kaltim ini, merasa sedikit malas untuk ikut serta. Semacam, “Ngapain siiiiih main ginian.”

Tapi ketika dimulai, beuh, kulkas 4 pintu macam Sheila Achmad dan Daeng Lompo saja menjadi ‘pecah’. Apa itu segan, malu-malu, sungkan. Waktunya joget, jogeeet. Waktunya main gim kekompakan, maiiiin. Semua orang berkompetisi, tertawa, dan saling memanasi lawan. Mereka seketika lupa dengan masalahnya. Larut dalam permainan yang intinya adalah melatih kepemimpinan, kebesaran hati dipimpin, kerja sama tim, dan mencari solusi cepat di saat krisis.

Tim Daeng Lompo jadi pemenang utama. Tim Dian Rosita dan Sheila jadi pemenang kedua. Ini saja sudah menunjukkan betapa totalnya mereka dalam permainan, wkwkwk.

Peserta Puas Abis

Pemilik Naureen Mini Garden, Resti Amelia, yang turut menjadi peserta, merasa senang bisa terlibat dalam bimtek ini.

“Banyak insight dan ilmu baru yang kami dapatkan, terutama soal pengelolaan taman rekreasi yang lebih profesional dan ramah pengunjung.”

“Buat kami di Naureen Mini Garden, pelatihan ini sangat bermanfaat banget. Mulai dari cara meningkatkan kenyamanan pengunjung, pengelolaan fasilitas, sampai strategi promosi yang lebih efektif. Jadi makin semangat buat terus berbenah dan menjadikan Naureen Mini Garden sebagai destinasi wisata keluarga yang murah meriah, nyaman, dan penuh edukasi di Samarinda,” testimoninya sembari promosi. Hmm.

Kesenangan lain bagi Resti adalah, selama 2 hari itu, ia dapat berjumpa dengan banyak pengelola destinasi wisata. Ini seperti keuntungan tambahan. Sembari belajar, dapat teman dan relasi baru. –Maksudnya teman mengeluh kalau kunjungan lagi sepi.

“Terima kasih Dispar Kaltim atas kesempatannya. Sukses selalu untuk pariwisata Kalimantan Timur,” tutup Resti.

Peserta Ketagihan

Peserta lainnya, Khoiril, pengelola Kebun Ndesa, ikut mengamini jika bimtek yang menghadirkan para praktisi aktif ini sangat bermanfaat untuk para pengelola tempat wisata. Selain teori, mereka punya kesempatan bertanya tentang beberapa hal, sehingga ilmunya bisa diaplikasikan di destinasi masing-masing.

“Tiap praktisi ngasih kesan yang berbeda. Dari Pak Es, saya jadi tahu gimana caranya membuat narasi promosi yang lebih menarik.”

“Dari Bu Titik, saya belajar buat berani ngasih respons ke customer yang memberi komentar (di Google maupun medsos). Terus evaluasi sosmed apa saja yang belum dimaksimalkan,” ujar Iril. Memang pada sesi pengelolaan, Titik sempat membongkar Google Review dan media sosial dari Kebun Ndesa. Sehingga Iril, secara tidak langsung mendapat masukan dan cara penanganan yang tepat sasaran.

“Kak Sheila ngasih pandangan gimana kalau wisata ini tata kelolanya jalan dengan baik. Jadi tahu juga tentang membuat target penjualan dan mengatur event apa saja yang bisa kita laksanakan.”

“Bu Fitri ngajarin kita kerja sama. Sementara Pak Eko memberikan gambaran untuk peserta yang belum paham tentang pajak apa saja yang perlu diperhatikan. Serta cara menghitungnya. Kemudian pentingnya PT/CV dalam bisnis ini.”

“Di mana jika terjadi kesalahan dalam pembayaran pajak, bisa berdampak pada banyak hal,” timpanya.

Iril berharap bimtek seperti ini menjadi agenda rutin Dinas Pariwisata Kaltim ke depannya.

Lanjut ke peserta dari Berau, Norman Senna. Pengelola Summer Camp ini mengatakan mendapat kesan besar dari para narasumber.

“Ilmu yang diberikan tepat sasaran!”

“Saya mendapat cakrawala baru di bisnis destinasi wisata. Mendapatkan strategi baru, semangat baru, serta yang terpenting adalah mengenal rekan-rekan sesama pengelola destinasi wisata yang luar biasa,” ujarnya.

Sama seperti Iril, Norman berharap Dispar Kaltim dapat melaksanakan pelatihan macam ini lebih sering.

“Pelatihannya dibuat 3 bulan sekali, boleh gak, sih?” Pinta Norman Senna mengakhiri wawancara. (gis)

Bagikan:

Pos terkait