Heboh Anggaran Promosi Wisata Rp1,7 M, Tudingan Proyek Timses, hingga Penjelasan Dispar Kaltim

Pemprov Kaltim menganggarkan Rp1,7 miliar untuk promosi wisata melalui digital. (IST)

Pemprov Kaltim menganggarkan Rp1,7 miliar untuk membayar influencer yang nantinya akan membuat konten promosi pariwisata pada tahun 2025 ini. Masyarakat menganggap angka itu berlebihan, sampai muncul anggapan bahwa anggarannya akan mengalir ke influencer yang jadi timses Rudy-Seno saat kampanye. Di tengah kegaduhan, Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim muncul memberi tanggapan.

Dalam dokumen Perubahan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (P-RKPD) Tahun Anggaran 2025, disebutkan bahwa pemprov akan melakukan promosi pariwisata menggunakan jasa influencer, dan menganggarkan Rp1,7 miliar. Anggaran itu nantinya akan dikelola oleh OPD teknis –Dinas Pariwisata Kaltim.

Bacaan Lainnya

Respons Masyarakat

Penganggaran ini memicu reaksi besar di tengah masyarakat, khususnya di media sosial. Media Etam memantau di berbagai akun media sosial yang menayangkan berita tentang Rp1,7 miliar ini sepanjang Kamis, 18 September 2025. Hasilnya, kebanyakan reaksi negatif.

Sebagian warganet menyayangkan penganggaran itu karena dilakukan di tengah dengungan efisiensi. Warganet lain menilai uang sebesar itu sebaiknya digelontorkan untuk membenahi infrastruktur pariwisata yang belum merata.

Pekan lalu misalnya, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud merasakan sendiri betapa sulitnya akses menuju Kampung Wisata Merabu di Berau. Juga menyaksikan bahwa di kampung tersebut masih blank spot dan listrik susah. Padahal potensi wisata alam dan budayanya sangat besar.

Proyek Timses?

Penggunaan nomenklatur ‘influencer’ dalam P-RKPD Kaltim 2025 seolah membawa ingatan masyarakat pada momen Pilkada Kaltim 2024. Ketika itu, kedua paslon sama-sama menggunakan jasa influencer sebagai media kampanye digital. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Maka ketika kata influencer sekali lagi muncul, banyak warganet menduga bahwa anggaran itu nantinya akan digelontorkan untuk influencer yang membantu Rudy-Seno memenangkan Pilkada Kaltim. Meski tentu, ini baru sebatas kecurigaan tanpa dasar.

Tanggapan Dispar Kaltim

Di tengah kegaduhan, Dispar Kaltim muncul memberi tanggapan resminya. Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi menjelaskan bahwa model promosi digital menggunakan jasa influencer sudah lazim terjadi di berbagai daerah. Bahkan sudah digunakan lebih dulu oleh Kementerian Pariwisata.

“Kerja sama dengan influencer bukan hal baru. Pemerintah Pusat hingga daerah lain, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta, juga menggunakan pola ini. Kami di Kaltim berusaha mengoptimalkan langkah serupa agar destinasi wisata kita lebih dikenal,” katanya, Rabu, mengutip dari Kaltimedia.

Ririn menilai, perkembangan destinasi wisata di Kaltim sudah berada di jalur yang positif. Beberapa potensi juga menunggu untuk naik kelas jadi destinasi. Yang kurang adalah promosinya.

Pemerintah Kaltim berupaya mengambil peran itu melalui promosi digital melibatkan konten kreator, agar menjangkau calon wisatawan yang lebih besar.

Selama ini, katanya, Dispar Kaltim telah mempromosikan pariwisata melalui media daring, televisi, pameran, hingga business mathing.

“Itu cukup membantu, tetapi belum menjangkau kelompok audiens yang lebih luas dan spesifik. Karena itu, pendekatan influencer ini akan menjadi tambahan strategi,” lanjutnya.

Bukan Sekadar Endorsment

Ririn menegaskan, bahwa proyek promosi ini bukan sekadar endorsement putus. Dispar ingin membangun kerja sama yang bersifat kolaboratif. Nantinya, influencer akan menjadi agen pariwisata berkelanjutan di dunia maya. Yang selain menjual tempat wisata, juga membangun narasi yang kuat untuk meningkatkan citra pariwisata Kaltim yang lebih jauh lagi.

“Konsepnya bukan sekadar posting. Kami ingin mereka ikut membangun narasi pariwisata Kaltim, sekaligus menjadi jembatan agar program promosi kami lebih interaktif,” imbuhnya.

“Ini bukan tren semata, melainkan bagian dari strategi besar. Harapannya, promosi digital bisa mendorong pertumbuhan ekosistem kreatif yang lebih solid di daerah,” tegasnya.

Memahami Kritikan Masyarakat

Ririn juga ikut memantau respons masyarakat di internet. Ia memahami keresahan dan kritikan dari mereka. Menurutnya, itu terjadi karena yang dinilai adalah angka besarnya. Bukan pada jumlah destinasi yang akan dipasarkan, serta dampak jangka panjang yang akan tercipta.

“Kalau hanya melihat dari nominal, mungkin terkesan besar. Namun, ini adalah upaya membangun promosi modern yang sudah terbukti di banyak daerah lain. Pada akhirnya, yang kami kejar adalah peningkatan kunjungan wisatawan serta pengenalan potensi lokal hingga tingkat nasional dan internasional,” kuncinya.

Influencer akan Diseleksi Ketat

Pada waktu dan tempat yang berbeda, Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dispar Kaltim, Restiawan Baihaqi menegaskan bahwa influencer yang akan diajak bekerja sama tidak asal-asalan.

“Tentu ada pertimbangan khusus terhadap pemilihan influencer ini, tidak sembarangan. Harus berbadan hukum seperti perusahaan, agensi, atau lembaga resmi.”

“Dalam waktu dekat, kami akan menyeleksi influencer-nya, serta rapat internal untuk pembahasan promosi destinasi wisata,” ungkapnya.

Tidak hanya Influencer

Meski menggunakan nomenklatur influencer, Baihaqi menjelaskan bahwa nantinya, media promosi yang akan diajak kerja sama tidak hanya konten kreator saja.

“Kami tidak hanya mengandalkan satu media atau satu jalur promosi saja. Kami memanfaatkan semua kanal media online, media cetak, influencer, radio, dan lain sebagainya,”

Ia mengakui, semua media informasi punya peran yang penting dalam pemasaran produk. Namun untuk saat ini, media sosial memiliki kecepatan dan jangkauan yang lebih unggul. Makanya mendapat perhatian dari pemerintah.

“Di era media yang sekarang, promosi menjadi semakin penting dan masif. Media sosial menjadi wadah yang sangat krusial untuk memperkenalkan potensi Kalimantan Timur kepada dunia luar, dengan menggandeng influencer terkenal di Kaltim,” pungkasnya. (gis)

Bagikan:

Pos terkait