SAMARINDA — Dana Gratispol Pendidikan semester genap 2026 resmi mengalir ke ribuan mahasiswa di Kalimantan Timur. Pemerintah Provinsi Kaltim menyalurkan sekitar Rp103 miliar kepada 21.127 mahasiswa. Secara jumlah, mahasiswa kampus negeri memang lebih banyak menerima bantuan. Namun jika dilihat dari rata-ratanya, mahasiswa kampus swasta justru memperoleh nilai lebih besar, selisih sekitar Rp498 ribu per orang.
Program ini menjangkau 57 perguruan tinggi, bukan hanya kampus di dalam daerah, tetapi juga sejumlah kampus mitra luar daerah melalui skema khusus.
Tiga Jalur dalam Satu Program
Gratispol tidak berjalan dalam satu pola tunggal. Ada jalur reguler untuk mahasiswa perguruan tinggi negeri, jalur reguler untuk perguruan tinggi swasta, serta jalur kerja sama.
Jalur reguler bersifat massal dan ditujukan bagi mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi negeri maupun swasta yang berada di Kalimantan Timur. Selama memenuhi syarat administratif—seperti status mahasiswa aktif dan verifikasi data kependudukan—mahasiswa dapat langsung ditetapkan sebagai penerima karena program ini memang diarahkan untuk pemerataan akses kuliah di dalam daerah.
Sebaliknya, jalur kerja sama tidak hanya terbatas pada kampus di Kaltim, tetapi juga mencakup perguruan tinggi mitra di luar daerah. Skema ini biasanya disiapkan untuk kebutuhan sumber daya manusia tertentu sehingga jumlahnya terbatas dan melalui seleksi tambahan, misalnya penyesuaian program studi, kuota bidang prioritas, atau persyaratan khusus lainnya. Meski mekanismenya berbeda, pada tahap rekapitulasi seluruh penerima tetap digabung kembali berdasarkan jenis kampus—negeri atau swasta—agar distribusi bantuan dapat dibandingkan secara menyeluruh.
Negeri Lebih Banyak, Swasta Lebih Besar Dapatnya
Setelah penerima dari jalur kerja sama dimasukkan kembali ke kategori asal kampusnya (PTS atau PTN), dominasi jumlah tetap berada di perguruan tinggi negeri. Tercatat 11.512 mahasiswa PTN menerima bantuan, lebih banyak dibanding 9.615 mahasiswa dari perguruan tinggi swasta, atau selisih hampir dua ribu orang.
Namun gambaran itu berubah ketika nilai bantuan dihitung. Total dana yang mengalir ke mahasiswa PTN mencapai sekitar Rp53,59 miliar, sementara ke mahasiswa PTS sekitar Rp49,55 miliar. Saat angka tersebut dirata-ratakan per penerima, mahasiswa swasta justru memperoleh nilai lebih tinggi, yakni sekitar Rp5,15 juta per orang, sedangkan mahasiswa negeri sekitar Rp4,65 juta. Dengan perhitungan itu, rata-rata bantuan mahasiswa swasta tercatat lebih besar sekitar Rp498 ribu dibanding mahasiswa negeri.
Bukan Angka Pasti Tiap Mahasiswa
Besaran tersebut bukan nilai mutlak yang diterima setiap mahasiswa. Gratispol mengikuti nominal UKT masing-masing kampus dan program studi. Mahasiswa dengan UKT lebih tinggi otomatis menerima bantuan lebih besar.
Karena biaya kuliah di perguruan tinggi swasta umumnya lebih mahal dibanding sebagian kampus negeri, rata-rata bantuan mahasiswa swasta pun menjadi lebih tinggi.
Melalui pola ini, Gratispol tidak hanya memperbanyak jumlah mahasiswa kuliah, tetapi juga berusaha menutup kesenjangan biaya antar jenis perguruan tinggi agar pilihan kuliah tidak lagi ditentukan oleh kemampuan ekonomi keluarga.
Redaksi Media Etam








