Ponton Batu Bara yang Mengancam Jumlah Pesut Mahakam

Pesut mahakam di perairan Mahakam Tengah. (Dok Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI).
Pesut mahakam di perairan Mahakam Tengah. (Dok Yayasan Konservasi Rare Aquatis Species of Indonesia (RASI).

Kutai Kartanegara – Jumlah Pesut Mahakam makin sedikit. Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK RASI) pun memonitor ada 62 ekor yang tersisa pada 2022. Hidupnya pun makin sesak. Sebab, ekosistem yang tak lagi ramah dan lalu lalang ponton batu bara di “rumah” mereka.

Untuk menjumpai Pesut Mahakam tak lagi mudah di Sungai Mahakam. Mamalia air tawar itu, kini lebih banyak hidup di kawasan Mahakam Tengah, yaitu di Sungai Belayan, Kedang Rantau, Kedang Kepala, dan sekitar Danau Semayang – Melintang, yang ada di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Meski berada di sungai-sungai kecil, hidupnya juga tak benar-benar terjamin.

Bacaan Lainnya

Sejumlah ancaman masih menghantui Pesut Mahakam. Utamanya adalah ekosistem yang rusak. Co-founder  YK RASI Danielle Kreb memaparkan kematian Pesut Mahakam masih terjadi. Paling banyak mereka terkena jaring ikan. Namun, pihaknya sudah membagikan finger sonar ke nelayan untuk dipasang di rengge atau jaring.

Tujuannya, membuat Pesut Mahakam jauh dari jaring nelayan dan tidak tersangkut. 2023 ini, kematian pesut akibat jaring pun menurun, baru satu kematian pesut Mahakam. Harapannya, jumlah pesut mahakam akan meningkat, seiring dengan kelahiran bayi-bayi baru.

Pesut Mahakam dan Kapal Ponton Batu Bara di Mahakam Tengah

Namun, masih ada yang bikin khawatir. Ketika melakukan monitoring pada November lalu, dia melihat banyak ponton batu bara yang lewat di sungai kecil habitat pesut. Ponton ini pun banyak menyalahi aturan.

Ponton ini harusnya melaju di tengah sungai. Tetapi, banyak yang melaju di pinggir. Selain melanggar aturan, hal ini menyebabkan perubahan di sungai.

“Tebing-tebing sungai itu bisa tergerus, dan mengubah kondisi alami sungai,” sambungnya.

Tak hanya makin ke pinggir, aturan sudah tegas menentukan ukuran kapal tongkang yang boleh melintas. Sayangnya, kapal ini juga menyita dua pertiga dari lebar sungai dan lebih dari setengah kedalaman anak sungai. Ketika mereka menuju hulu, Pesut pun selalu mengubah arah berenang jika bertemu ponton. Pasalnya pesut yang “melihat” dengan mengandalkan sonar, kerap terganggu dengan ponton. Karena ponton menghasilkan suara lebih dari 100 desibel. Sedangkan, suara 80 desibel saja, sudah membuat pesut tak bisa menebak jaraknya dengan obyek lain. (Offi/Mediaetam.com)

baca juga: Membatasi Tongkang, Menjaga Pesut Mahakam

Bagikan:

Pos terkait